Konsul Jenderal RRC untuk Surabaya Mr. Wang Huagen Diundang Melihat Karapan Sapi yang digelar di Ken Park, Kenjeran pada 17 Oktober 2009.
 |
| foto bersama juara sapi |
Ada empat pasang sapi aduan yang didatangkan khusus dari Bangkalan, Madura. Sebelum lomba dimulai sapi dan joki dibawa mengelilingi arena balap di bekas tempat pacuan Ken Park.
Karapan sapi ditampilkan pada hari ketiga Festivel Seni Lintas Budaya 2009 ini untuk menunjukkan kebudayaan asli Jawa Timur. Kegiatan tersebut dilangsungkan pukul 10.00 hingga 11.30. Meskipun terik matahari begitu menyengat di tempat lomba, penonton tidak beranjak hingga acara berakhir.
 |
| Karapan Sapi Di Madura |
Karapan sapi merupakan salah satu objek wisata budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun di Madura, bahkan sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain itu, karapan sapi telah menjadi salah satu ikon pariwisata Jawa Timur.
Menurut seorang koordinator H Hasan, karapan sapi di Pulau Madura lahir sekitar abad ke-14. Budaya tersebut bermula dari adu cepat sapi untuk menggarap sawah setelah masa pamen, karana saat itu sawah-sawah belum ditanami sambil menunggu musim hujan.
Sapi-sapi yang diadu cepat menggarap sawah tersebut dinaiki seorang joki. Mulanya masih belum ada aturan main yang jelas, sehingga sering timbul perselisihan antara pemilik sapi dan tak jarang berakhir dengan pertengkaran. Karana itu, pemerintah colonial Belanda waktu itu turut campur tangan untuk membuat aturan-aturan dalam karapan sapi seperti yang berlaku sampai sekarang.